Wenger Akui Butuh Keajaiban untuk Finis di 4 Besar

Wenger Akui Butuh Keajaiban untuk Finis di 4 Besar

Berita Bola, Wenger Akui Butuh Keajaiban untuk Finis di 4 Besar

Hasil mengecewakan harus didapat Arsenal kala melawat ke markas Brighton and Hove Albion dalam lanjutan pekan ke-29 Liga Inggris 2017-2018 lantaran kalah dengan skor 1-2. Dengan hasil tersebut, peluang klub berjuluk Meriam London itu untuk bisa finis di posisi empat besar pun menjadi semakin sulit.

Saat ini, Arsenal tertahan di posisi keenam klasemen sementara Liga Inggris dengan raihan 45 poin. Mesut Ozil dan kolega terpaut 13 angka dari Tottenham Hotspur yang menghuni tempat keempat atau batas akhir untuk bisa lolos ke Liga Champions musim depan. Dengan menyisakan sembilan pertandingan tersisa di musim ini, jelas sangat sulit bagi Arsenal untuk bisa finis di posisi empat besar.

Menanggapi hasil minor yang didapat timnya tersebut, pelatih Arsenal, Arsene Wenger, yang semula optimis bisa finis di jajaran empat besar, kini justru tak terlalu berharap banyak. Wenger mengakui bahwa Arsenal butuh keajaiban untuk bisa menembus empat besar di akhir musim.

Pasalnya, Arsenal tidak hanya wajib memenangkan laga-laga tersisa, namun juga berharap agar dua tim yang berada di atas mereka saat ini, yakni Spurs di posisi empat dan Chelsea di tempat keenam, terpeleset. Tak ayal, Wneger pun kini hanya bisa berharap timnya tampil di Liga Champions musim depan melalui jalur Liga Eropa.

[ Baca Juga – Spalleti: Icardi Lebih dari Sekadar Siap untuk Hadapi Milan ]

“Ini sangat sulit, hampir mustahil sekarang – kami terlalu jauh di belakang. Kami harus realistis. Kami memerlukan dua tim (Chelsea dan Spurs) untuk terpuruk dan saya tidak melihat hal itu akan terjadi. Kami harus memberikan yang terbaik sejauh yang kami bisa dan Liga Eropa menjadi penting,” terang Wenger, menukil dari Kamus Judi.

Sementara itu, menanggapi performa skuad asuhannya melawan Brighton, Wenger mengaku kalau Arsenal telah terluka parah di babak pertama. Kecolongan dua gol dari Brighton diakuinya berdampak pada kepercayaan diri para pemainnya.

“Kerusakan itu dilakukan di babak pertama karena kami kesulitan menemukan pijakan. Kami kesulitan dalam kepercayaan diri. Anda bisa melihat bahwa ada kombinasi pada kedua faktor tersebut. Setelah itu, kami tetap memberikan segalanya di babak kedua dan sialnya kami tidak bisa mendapatkan gol kedua (penyeimbang),” tukas pelatih berjuluk The Professor itu.