Agen Bola

Lukaku Terus Mengukir Rekor

 

Berita Bola,Everton –  Romelu Lukaku baru saja menorehkan rekor baru bersama Everton. Golnya ke gawang Crystal Palace beberapa hari yang lalu membuatnya resmi mengoleksi 50 gol selama berseragam The Toffees.

Jumlah tersebut juga membuatnya masuk dalam daftar lima pemain yang mampu mencetak 50 gol di Liga Primer Inggris sebelum menginjak usia 23 tahun.

Striker asal Belgia itu seakan menunjukkan bahwa Chelsea telah membuat kesalahan saat memutuskan menjualnya ke klub lain.

Selama berstatus pemain Chelsea, Lukaku sempat dipinjamkan ke West Bromwich Albion dan Everton lantaran tak pernah mendapat kesempatan bermain di klub milik Roman Abramovich itu. Hasilnya, Lukaku membuktikan bahwa dirinya cukup tajam di depan gawang lawan.

Saat memperkuat West Brom musim 2012/2013, ia bermain sebanyak 38 kali dan membukukan 17 gol di semua pertandingan. Musim 2013/2014, Lukaku dipinjamkan ke Everton.

Secara rata-rata, perolehan gol Lukaku lebih baik jika dibandingkan saat dipinjamkan ke West Brom. Ia mampu mencetak 16 gol dari total 33 pertandingan yang dilakoninya.

Hal ini pula yang membuat manajemen Everton kepincut untuk mempermanenkan statusnya. Pada musim 2014/2015, Lukaku resmi berstatus pemain Everton setelah ditebus senilai 28 juta pound atau sekitar Rp 591 miliar.

Kepercayaan ini dibayar tuntas olehnya lewat gelontoran 34 golnya dari 67 pertandingan yang dijalaninya hingga saat ini.

Musim ini, bomber setinggi 1.90 meter itu sudah mencetak 11 gol dari 15 pertandingan di Liga Primer Inggris. Bila dihitung pada tahun 2015 saja, Lukaku sudah mencetak 27 gol hingga bulan Desember ini.

Meningkatnya performa Lukaku bersama Everton membuatnya dijuluki sebagai ‘The New Didier Drogba’. Namun pemuda 22 tahun itu enggan dibanding-bandingkan dengan Drogba meski mengakui ia mempelajari banyak hal dari penyerang asal Pantai Gading tersebut. Dalam sebuah kesempatan, Lukaku menyatakan bahwa Drogba adalah idolanya.

“Dia adalah idola saya dan dia mengetahuinya. Tapi saya adalah Romelu Lukaku dan saya bangga dengan nama keluarga saya. Saya ingin membuat sejarah sendiri,” ujar Lukaku saat itu seperti dilansir Telegraph.

Mantan pemain Anderlecht ini menilai ada perbedaan gaya bermain antara dirinya dengan Drogba. Namun hal itu tak menghalanginya untuk selalu bertanya pada seniornya itu setiap dirinya mendapat kesulitan di atas lapangan.

“Saya masih berkomunikasi dengan Didier. Dia memberikan saya tips sepanjang waktu. Kami memiliki hubungan yang sangat spesial sejak hari pertama. Ketika saya tiba di Chelsea, mereka menempatkan saya di sebelahnya di ruang ganti. Jadi itu awal mulanya dan saya melihat dia sebagai pemain top profesional. Tak hanya dia, tapi juga John Terry, Frank Lampard, Nicolas Anelka, Fernando Torres. Sebagai pemain berusia 18 tahun (saat itu), saya menyaksikan apa yang mereka lakukan dan menyerapnya. Itu tahun yang bagus untuk persiapan,” paparnya.

Ada alasan tertentu mengapa Lukaku menjadikan Drogba sebagai idolanya. Drogba yang saat ini memperkuat klub asal Kanada, Montreal Impact, dinilainya memiliki determinasi untuk menang dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Hal ini yang dijadikan Lukaku sebagai tolok ukur selama berkarir di dunia sepak bola.

“Saya mengirim pesan, menelponnya kapan pun saya membutuhkannya. Saya mengirimkannya pesan minggu lalu ketika dia akan kembali ke Kanada. Tapi kapan pun saya membutuhkannya, saya tinggal menelponnya dan mengatakan ‘Saya melakukan ini hari ini, ini akan terlintas di pikiran saya, bagaimana saya melakukannya?’ Dia tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak harus dikatakan. Itu sebabnya saya menyukainya,” ucapnya.

Adapun menanjaknya performa Lukaku musim ini turut mengundang sanjungan dari pelatih Everton, Roberto Martinez. Pria asal Spanyol ini mengaku senang memiliki pemain seperti Lukaku. Menurutnya pemain muda seperti Lukaku, cukup cepat membuat tubuhnya kembali bugar usai menjalani sebuah pertandingan.

“Ketika kamu berusia 22 tahn dan menikmati sepak bola, kamu tak sabar untuk pertandingan berikutnya. Pemain yang harus diperhatikan secara hati-hati adalah yang berusia 28, 29, atau 30. Kami punya beberapa, dan kamu harus mengukur waktu pemulihan mereka dengan cukup baik. Namun pemain yang berusia 21 atau 22 tahun bisa kembali bugar dalam 12 jam karena mereka punya begitu banyak energi,” tuturnya.

Ada teori yang menyatakan bahwa pemain yang sedang berkembang lebih berisiko mengalami kelelahan. Namun Martinez mengaku berpendapat sebaliknya. Menurutnya faktor kelelahan bukanlah masalah bagi pemain muda.

“Saya senang memiliki pemain seperti Romelu, Ross Barkley, Gerry Deulofeu, dan John Stone di dalam tim. Ini adalah masalah menjaga momentum. Kelelahan datang ketima kamu tak bermain baik dan masih dipaksa bermain. Itu membuatmu bermain di bawah tekanan dan itu bisa menjadi sesuatu yang sulit,” jelasnya.