(Hari) Kasih Sayang Menurut Sepakbola

Bandar Bola

Bandar Bola – (Hari) Kasih Sayang Menurut Sepakbola ,

Jika cinta sudah melekat, tahi kucing pun rasa cokelat. Sudah sering kejadian dan jamak terjadi di mana-mana, sepakbola mendapatkan prioritas tertinggi dalam hidup.

Maka, jangan heran jika sudah mabuk kepayang dengan sepakbola, ada-ada saja tindakan bodoh yang dilakukan. Apakah Piala Dunia Brasil yang tetap dihelat meski negara sedang karut-marutnya termasuk tindakan yang bodoh? Di satu sisi, ya. Di sisi lain, tetap saja Piala Dunia itu menghadirkan kemeriahan. Orang suka-suka saja menyaksikan dan merayakan keberhasilan tim dukungannya.

Layaknya jatuh cinta pada kebanyakan orang, jangan bertanya soal nalar di sini. Seorang pria memrioritaskan menonton klub kesayangan tiap akhir pekan ketimbang jalan dengan kekasihnya adalah hal yang biasa. Mereka memilih untuk melewatkan malam di tribun ketimbang di meja makan malam nan romantis. Mereka lebih memilih berjingkrakan dan berangkulan dengan kawan-kawan manakala gol tercipta ketimbang memeluk hangat kekasih.

Di Inggris, misalnya, Anda bisa menemukan spanduk bertuliskan “MUFC, Kids, Wife, In That Order” di salah satu tribun Old Trafford. Jika diterjemahkan, spanduk itu kira-kira berbunyi: “MUFC dulu, Baru Anak, Lalu Istri”. Nyeleneh memang memrioritaskan klub di atas anak dan istri, tapi demikianlah kenyataannya. Walau demikian, di Inggris sendiri sudah lumrah sekeluarga datang berbondong-bondong ke stadion. Justru malah dari dalam keluargalah biasanya kecintaan akan sebuah klub tertentu dipupuk dan diwariskan secara turun-temurun.

Saya pernah mampir ke sebuah forum klub Premier League yang sedang hangat-hangatnya membahas tema “Suport Your Local Team“. Pada dasarnya, beberapa orang yang memberikan pandangan dalam forum tersebut memahami bahwa sah-sah saja klub mereka mencari dukungan sampai ke pelosok dunia mana pun. Sebab, tanpa dukungan fans global, klub mereka bakal kesulitan untuk membayar gaji para pemain bintangnya.

Awalnya, saya sedikit skeptis soal tema tersebut dan sedikit beranggapan bahwa itu hanya sekadar gaya-gayaan atau arogansi pendukung lokal saja. Sampai saya membaca sebuah argumen yang menyatakan, mendukung klub lokal tidak hanya berarti mendukungnya secara permainan, tetapi juga mendukungnya karena ada kedekatan kultural. Beda klub, beda wilayah, biasanya beda juga kebiasaan atau kulturnya. Kultur-kultur inilah, kata mereka, yang tidak akan bisa dikenali oleh pendukung dari luar.

Silakan setuju atau tidak setuju dengan argumen tersebut. Tapi, di Indonesia sendiri pun kadang ada yang begitu. “Saya orang Jakarta, makanya dukung Persija.” atau “Orang Bandung mah dukung Persib.” Kadang tidak ada alasan khusus mengapa mendukung kedua klub itu. Ketika ditanya mengapa, maka jawabannya adalah asal-muasal tempat tinggal orang tersebut.

Namun, ada kalanya orang beranggapan bahwa kecintaan kepada klub tidak bisa dipilih-pilih atau ditolak-tolak. Alamiah saja. Kadang kalau sudah dijodohkan suka dengan satu klub tertentu, ya terjadilah. Biarpun satu keluarga Anda mendukung klub tertentu, bisa saja Anda mendukung klub rival mereka.

Ambil contoh cerita vokalis The Stone Roses, Ian Brown, soal kecintaannya pada Manchester United. Kepada FourFourTwo, Brown mengisahkan bahwa di daerah tempatnya dibesarkan setiap rumah adalah rumah pendukung Merah atau Biru (United atau City). Rumahnya adalah Rumah Biru. Mulai dari nenek, orang tua, hingga saudara-saudaranya adalah pendukung City.

Agen Bola | Judi Online | Bandar Bola | Agen Casino

Kampusbet | Jendralpoker
Kami ada karena Anda

BBM : 2AE11015
SMS : +62 8788 7980 368
WhatsApp : +855 8731 8883
WeChat : KampusBet
YM : CSKampusbet@yahoo.com
Facebook : kampusbet
Twitter : Kampusbet
Google+ : Kampusbet